Tuesday, May 16, 2017

[CatPer] The Gogons: Road Trip menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat, Pantai Jayanti – Cianjur sampai ke Pantai Batu Karas – Pangandaran

Pantai Rancabuaya


Tanggal 25 Desember 2014, jam 09.00 pagi, di dalam mobil, baru keluar dari komplek rumah di Pondok Cabe, gue (Ari), Adi ‘n Dito masih berdebat masalah tujuan trip Kita kala itu… apakah Kita mau bawa mobil ke Bandara Soetta, parkir inapin, terus kita terbang ke Belitung atau menyusuri Pantai Selatan Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta) sampai ke Pacitan (Jawa Timur) atau menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat, dari Pantai Jayanti di Cianjur sampai ke Pantai Selatan Garut

Bawa mobil ke Bandara Soetta, parkir inapin, terus kita terbang ke Belitung – Kita coret langsung dari opsi trip karena (1) Beli tiket pesawatnya Go Show, kemungkinan besar tiket udah ngga tersedia karena pas lagi musim liburan akhir tahun dan kalaupun ada harganya pasti udah melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi… hihi… (2) Belum pesen hotel pula, entar sampe sana udah penuh semua, lah bakal tidur di mana Kita yak… ngegembel palingan…

Menyusuri Pantai Selatan Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta) sampai ke Pacitan (Jawa Timur) – Kita coret pas memasuki Tol JORR yang macet parah… macet udah merajalela, udah kemana-mana… ke arah Cikunir menuju Tol Jakarta-Cikampek macettt, ke arah Jagorawi macettt… Kalo maksain ke Jogja, bakalan pegel dah nyetir puluhan jam menembus kemacetttan… 

Perjalanan menyusuri Pantai Selatan Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta) sampai ke Pacitan (Jawa Timur) akhirnya kesampean Kita lakukan di awal 2016, tepatnya di tanggal 14 – 17 Januari 2016. Cerita lengkapnya bisa dibaca di CatPer The Gogons ini:

PART I
PART II


Akhirnya diputuskanlah perjalanan menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat, dari Pantai Jayanti di Cianjur sampai ke Pantai Selatan Garut yang Kita pilih untuk direalisasikan… yup walaupun jalan Tol Jagorawi ke arah Puncak/Bogor juga macettt parahhh, tapi Kita pikir ini tujuan paling realistis karena lebih dekat jaraknya dari yang lain… iya kan...? iya dooong… iya deh, saya pasrah…

Nah, karena ke arah Puncak/Bogor macettt parahhh dan mobil jalannya cuma se-encret se-encret, keluarlah Kita dari Tol Jagorawi di Pintu Tol Cibubur, karena telah diputuskan oleh penghuni mobil kalau perjalanan akan dilanjutkan melalui Jonggol terus ke arah Jalan Trans Yogi untuk akhirnya tembus di Cianjur. Pas lewat rute ini Kita kena macet cuma di area Jonggol aja boss, selebihnya lancar… cuma kalo lewat sini jalannya muter abisss, berasa jauuuh banget, tapi jalannya mostly bagus dan pemandangan juga lumayan oke… artinya walau jarak perjalanan lebih jauh, tapi ngga berasa bosen karena sepanjang jalan disuguhi lukisan alam yang caem… ehemmm…

Setelah enam jam perjalanan, sekitar jam 3 sore Kita sampe di Cianjur, istirahat sebentar, makan nasi padang, beli ransum di Indomar*t dan sholat… Sejurus kemudian sekitar jam 5 sore perjalanan dilanjutkan terus ke arah selatan... Sempet mikir lama juga ya perjalanan dari Pondok Cabe ke Cianjur… apa kalo pas berangkat Kita tetep lewat Puncak Bogor akan sampe lebih cepet atau lebih lambat ya…? Tanya yang tak pernah terjawab, bahkan mungkin hingga ujung waktu… 

Jalan dari Cianjur ke arah selatan waktu Kita melakukan trip ini masih sangat minim penerangan, kondisi jalan kurang bagus dan banyak lubangnya, jadi bisa dibayangkan bagaimana Kita bertiga-tigaan bawa mobil menembus gelap malam, ngga ngerti di kiri-kanan mobil Kita apakah lagi melewati hutan, kebon, jurang, empang, kali, tambah, kurang, bagi, en de bre, en de bre, en de bre… Sepanjang perjalanan sangat jarang keliatan ada rumah atau perkampungan… Seringnya cuma ada mobil Kita di jalan, sesekali aja ada motor lewat, terus hilang karena mereka lebih ngebut, sementara mobil Kita yang banyakan ketemu lubang di jalan jadi agak lebih lambat dari motor-motor itu. Ada sekali waktu muncul satu mobil di belakang Kita, yang awalnya Kita pikir bisa bareng-bareng jalan, eeeh… tiba-tiba doi nyalip Kita, ngebut dan terus ngilang, ninggalin tiga orang yang terus melongo, cengo, tapi ngga bego… nasippp… sendiri lagi dan terus sendiri mobil ini sampai akhirnya tembus di Pantai Selatan Cianjur…

Yang pertama kali Kita jumpai setelah sampai Pantai Selatan Cianjur adalah Pom Bensin, dan juga perlu diketahui kalo Kita banyak menemui Pom Bensin-Pom Bensin lain (terutama Pom Bensin Pertamini) di sepanjang perjalanan Kita menyusuri area paling selatan dari Jawa Barat ini. Awalnya Kita ragu atas ketersediaan supply bahan bakar di perjalanan Kita ini, sehingga saking ragunya, Kita sudah menyiapkan 1 drum/20 liter bahan bakar V-Power di bagasi mobil yang Kita beli sebelum berangkat, buat jaga-jaga...

Setengah jam mengendarai mobil dari Pom Bensin, kira-kira jam setengah 10 malam sampailah Kita di area Pantai Jayanti. Masuk area pantai, bau amis menyeruakkk… tapi karena udah malem, capek nyetir, ngga ada kegiatan juga di sekitar pantai, jadi males juga nyari-nyari asal bau tadi… lagian ini kan pantai, tapi kalo pantai wisata kan biasanya ngga bau… halah, ora urus… cus lah Kita langsung cari penginapan… dapet satu kamar di penginapan yang paling deket sama pantai, untung aja masih dapet kamar di sini, karena penginapan lainnya pada sepi, gelap, kamarnya lembab… jadinya agak spokeeeh… eh eh eh…

Bangun pagi langsung menjelajah Pantai Jayanti… dan ternyata eh ternyata… ini adalah pantai nelayan dan juga pantai wisata… pantesan bau amis…

Semangat Pagi!


Sisa-sisa Sunrise di pelabuhan nelayan Pantai Jayanti


Aliran sungai menuju laut


Cakep, caem, cantik, ciamik...


Senengnya maen air pagi-pagi


Dito lagi mhoto-in encu


Ngga lama-lama di Pantai Jayanti, habis sarapan Kita langsung cau melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Rancabuaya. Mostly jalan yang Kita lalui selama perjalanan dari Pantai Jayanti ke Pantai Rancabuaya itu mulusss, cuma ada di satu daerah yang jalannya itu bukan aspalan atau betonan, tapi batu koralan, dan panjang jalan batu koralan ini kira-kira 2 atau 3 KM, ya lumayan bikin setres mobil, bikin lelet. Perjalanan Kita ini kan akhir tahun 2014, dan pas gue tulis catper ini udah tahun 2017… jadi mudah-mudahan udah diperbaiki, diaspal atau dibeton tuh jalan… Aamiin…

Lanjut cerita, sekitar Pantai Rancabuaya jalannya bagus banget, keliatannya emang dipersiapkan untuk mendukung pariwisata disekitar sini. Dan sepertinya untuk mendukung pariwisata juga, Kita lihat di area pantai banyak penginapan yang bagus… jadi nyesel nginep di Pantai Jayanti… coba kemaren sampenya belom kemaleman, jadinya kan bisa langsung ke sini… tapi… ah, sudahlah…

Indonesia emang Kece!


Pantai Rancabuaya, berbatu dan ombak besar


Cerah, Indah...


Fhotonya jagoan nih kan...?


Puas menikmati pemandangan Pantai Rancabuaya sambil menenggak es kelapa muda, sejam kemudian perjalanan dilanjutkan memburu pantai beikutnya, yaitu Pantai Santolo. Jalan yang Kita lewati untuk menuju Pantai Santolo masih tetap mulusss, jadi ngga perlu waktu lama Kita sudah sampe tujuan.

Jalan dari Pantai Rancabuaya menuju Pantai Santolo




Mulusss kan jalannya....


Pantai Santolo berpasir putih agak kecoklatan, jadi air lautnya pun berwarna bening agak kecoklatan mengikuti pasirnya. Yang kurang mengenakkan pandangan mata adalah letak-letak penginapan, rumah makan dan area parkir di sekitar pantai yang berantakan tidak tertatata rapi, bahkan ada rumah makan/penginapan berdiri di tengah jalan/membelah jalan, sehingga membuat suasanan berasa tambah riweuh… Mudah-mudahan sih sekarang udah ngga seperti itu lagi ya, udah dirapihin sama pengelola atau pemerintah daerah situ… Aamiin…

Pantai Santolo, air bening kecoklatan




Jalan akses menuju Pantai Santolo


Selepas makan siang, diskusi mengenai tujuan selanjutnya hangat Kita bicarakan… apakah Kita akan ke utara arah Garut dan mencari Point of Interest semacam curug-curug (air terjun) sesuai rencana awal atau terus lanjut ke Timur arah Pangandaran untuk memburu pantai selanjutnya… daaan… diputuskanlah secara aklamasi kalau perburuan pantai akan Kita lanjutkan… Kita menuju ke Pantai Batu Karas di daerah Pangandaran… Keputusan diambil setelah mengukur jarak dan waktu tempuh yang hanya 3 – 4 jam saja untuk menuju daerah Pangandaran plus Kita mau sekalian ke Green Canyon cuy…

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Batu Karas, Kita menemui setidaknya dua ruas jalan yang kondisinya menyedihkan bagi mobil yang Kita kendarai… (1) selepas daerah selatan Garut, Kita menemui jalan di tengah perkebunan karet, dengan panjang sekitar 5 – 7 KM yang masih berupa tanah, berlubang-lubang dan sangat bergelombang, (2) Kira-kira 5 KM sebelum daerah Pangandaran, ada sepotong jalan yang belum dibeton, yang juga masih berupa tanah saja… selain dari dua ruas jalan di atas, semua jalan yang Kita lalui dari Pantai Santolo menuju Pantai Batu Karas bagusss, antara sudah aspalan atau betonan. Mudah-mudahan sekarang dua ruas jalan di atas itu udah ngga rusak lagi lagi ya, udah diaspal/dibeton sama pemerintah daerah situ… Aamiin…

Salah satu ruas jalan menuju Pangandaran


Sampai Pantai Batu Karas pas Maghrib, muter-muter cari penginapan dan akhirnya dapet kamar di ‘Bonsai Bungalows’. Harga kamarnya murah, cuma 200ribu-an (harga tahun 2014 ini ya…), tapi pendingin kamarnya pake Kipas Angin yang udah ngga berasa dinginnya… mungkin ngga berasa dingin karena udara sekitar pantai emang panas, mungkin karena Kita sekamar bertiga (ngirit…) atau mungkin karena kipasnya udah karatan dan berdebu… perkiraan Kita ya karena alasan terakhir ini… tapi masih mending lah daripada dikasih pendingin kamarnya pake Kipas Sate…

Pantai Batu Karas, pasirnya coklat/hitam


Ombaknya ramah... suka nyapa soalnya...


Masih sepi...


Tempat nginep


Selepas menikmati keindahan pagi di pinggir Pantai Batu Karas, Kita langsung blusukan cari-cari operator untuk Body Rafting di Green Canyon, yang merupakan tujuan utama Kita ke sini… bulan Desember, bulan gloomy yang sering hujan… sebuah ide yang sangat buruk untuk melakukan Body Rafting di bulan ini… tapi karena emang udah niat Kita tetep nekat ikutan Body Rafting di tengah hujan yang turun saat itu…

Daaan… beneran aja bro… mimpi buruk dah Body Rafting-nya… debit air di Green Canyon deres banget (bukan di jeram aja deres aliran airnya bro..), ketinggian air juga meningkat tajam… alhasil sepanjang Body Rafting Kita jarang di tengah sungai, seringnya (mungkin 80% dari perjalanan Body Rafting) Kita dan semua peserta lain yang bejibun memenuhi Green Canyon ngantri dipinggir-pinggir tebing, pegangan batu-batuan tebing atau tali-temali yang dipasang di tebing-tebing… capekkk… pegelll… Sesekali gue bergerak agak ke tengah, sambil tetep pegangan tali tentunya, dan coba menapakkan kaki ke dasar sungai, tapi hasilnya telapak kaki ngga nyampe-nyampe dasar sungai… berarti kan air-nya dalem banget cuy (padahal tinggi gue 175 cm, berat 83 kg, ukuran celana 37, baju XL, loh kok keterusan…)

Setelah hampir 6 jam berendem, Kita dan semua peserta lainnya akhirnya dievakuasi keluar arena… hal ini dikarenakan debit air sungai yang kian deras dan ketinggiannya juga semakin meningkat, sehingga tidak memungkinkan untuk meneruskan acara Body Rafting-nya sampe finish.

Nah yang paling bikin trauma pas Body Rafting ini bagi gue adalah di jeram terakhir sebelum evakuasi… Kalo operator-operator lain nyuruh peserta-pesertanya untuk antri nyebrang di bebatuan dan ngga ada yang nyuruh pesertanya masuk jeram terus berenang, lain dengan operator yang Kita pake… mungkin karena udah ngga sabar ya tuh operator, Kita disuruh loncat ke jeram yang deres dan berenang ke pinggir sungai sebelah kanan di depan jeram itu… Gue yang udah lemes plus kegedean badan berhasil mengatasi rasa takut dan lompat ke jeram, tapi ngga berhasil bawa badan berenang ke pinggir sebelah kanan, malah kebawa arus ke sebelah kiri dan hampir hanyut… Parahnya lagi si operator bukannya langsung terjun ke air nolongin gue yang mau hanyut, eh malah ngelempar tali doang dan nyuruh gue untuk nyamperin tali sambil renang-renang susah payah… bener-bener pengalaman antara hidup dan mati yang bikin gemeteran kalo diinget-inget…

Nama operator Body Rafting yang Kita pakai waktu itu BARAJA broer… Mudah-mudahan sekarang udah lebih baik lagi mereka dalam memandu… Aaamiin…

Alhamdulillah masih diberikan keselamatan… evakuasi berjalan lancar dan Kita akhirnya kembali lagi ke base camp operator jam 4 sore (pagi berangkat Body Rafting dari base camp ini jam 9) … Sayangnya pula, karena hujan jadinya Kita tidak sempat mengabadikan momen-momen penting pas Body Rafting ini… tapi… ah, ya udah dah dah…

Pantai Batu Karas dan Green Canyon, Pangandaran, menjadi destinasi terakhir trip The Gogons kali ini. Tanggal 27 Desember 2014 malam, selesai bersih-bersih dari kegiatan Body Rafting, lewat jalur tidak biasa (tapi bukan kembali menyusuri jalan sepanjang pantai selatan) Kita bergerak pulang menuju Pondok Cabe.

Pemeran Utama I: Adi


Pemeran Utama II: Dito


Pemeran Utama III: Ari

Thanks for Reading...

ARI NUR RAHMAN



Klik The Gogons, if you want to know about the novel


Recommended Reading:

No comments:

Post a Comment