Wednesday, June 17, 2015

[CatPer] The Gogons: Trip to Gunung Prau, Dieng (2.565 mdpl) – Part 2

Posko Pendaftaran Pendakian – Pos I (Sikut Dewo)
Yang pertama Kita jumpai di jalur pendakian dari Posko Pendakian ke Pos I adalah 1000 anak tangga hahaha… boong deng, ngga sampe 1000 anak tangga, ngga banyaklah, lupa gue. Setelah itu Kita akan melalui jalur landai (ngga usah disebut bonus lah ya, wong masih di awal-awal pendakian) yang di kiri-kanannya terdapat kebun kentang penduduk, kemudian beberapa puluh meter dari sini Kita akan masuk jalur menanjak yang terbuat dari batu-batu yang tersusun rapi seperti cornblok, nah mulai dari sini Kita sudah bisa melihat lanskap daerah Dieng yang indah dan dikelilingi bukit-bukit hijau.

Setelah berjalan tidak sampai setengah jam Kita akan tiba di Pos I (Sikut Dewo). Di Pos I ini Kita akhirnya bertemu sama si Rafi, habis dia Kita omel-omelin… hehehe boong lagi deng… ngga kok Kita ngga omelin, Kita kan baik orangnya. Di Pos I ini setiap pendaki harus menunjukkan tiket pendaftaran ke para Ranger/petugas penjaga Pos, nah ini… jadi kalo lu pada mau naik Prau harus daftar dan bayar tiket pendakian dulu ya Bray, jangan asal naik aja, daripada udah capek-capek naik sampe Pos I tapi nanti disuruh turun balik lagi buat beli tiket… gimana hayo…

Catatan: sebenernya untuk mencapai Pos I dari Posko Pendakian kita bisa nyewa ojek motor (jalurnya masih bisa dilalui motor), dan sah-sah ajalah naik ojek kalo tujuannya buat memperbaiki perekonomian masyarakat Dieng.. ya ngga cuy..


View dari Pos I


Pos I (Sikut Dewo) – Pos II (Canggal Walangan)
Perjalanan dari Pos I menuju Pos II masih belum terlalu sulit menurut Kita, masih banyak bonusnya. Para pendaki juga masih bisa menemukan beberapa warung penduduk yang menjual makanan dan minuman (gorengan, mie instan, minuman hangat, air mineral), ini yang Kita ngga tau nih… kalo tau masih bisa nemu warung di sini, Kita ngga perlu banyak-banyak bawa perbekalan air mineral dari bawah, kan bisa menghemat tenaga dari bawah, tapi ya sudahlah, toh perlengkapan Kita juga dibawain sama porter.

Di sepanjang jalur dari Pos I menuju Pos II ini Kita juga masih akan melewati banyak kebun kentang penduduk di kiri-kanan jalan. Semakin tinggi Kita berjalan, maka pemandangan kawasan Dieng yang bisa Kita lihat pun semakin endah bro, mangstapnya pemandangan dan sejuknya udara (Kita ngga bilang udaranya dingin karena badan Kita mengeluarkan hawa panas dan keringat, jadi hawa panas badan mengimbangi udara dingin dari luar) membuat rasa lelah hilang… semwriming lah pokoknya…

O iyes, perjalanan dari Pos I menuju Pos II kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menitan atau lebih-lebih sedikitlah.


Nampang di Pos II


Pos II (Canggal Walangan) – Pos III (Cacingan) – Puncak Prau
Rute pendakian mulai berat nih bray, nanjak terus kaga ada bonusnya. Kita mulai sering berhenti di sini, berhenti sebenernya bukan karena capek bray (cieee… sombong nih), tapi karena mau menikmati pemandangan yang tambah ciamik, plus Kita mulai bisa melihat Telaga Warna yang perlahan-lahan mulai nongol dari balik bukit dari sini… cuantiknya pemandangan Dieng… Subhanallah

Lepas dari Pos III, para pendaki akan menemui jalur menanjak yang lebih terjal, di mana dibeberapa jalur yang sangat terjal dan berbahaya telah terpasang tali temali untuk membantu para pendaki berpegangan. Kemudian, mendekati puncak, Kita akan menemui anak tangga lagi yang sengaja dibuat untuk memudahkan pendakian, di sisi kiri/kanan anak tangga ini dipasang pegangan dari bambu. Nah, saat pendakian Kita ini, pas di jalur ini, hujan turun lumayan lebat, perjalananpun jadi tambah berat… karena jalur anak tangga ini berupa tanah, maka tanah basah yang terkena hujan menjadi berlumpur. Tuh bray, ini pentingnya Kita pake sepatu (sepatu gunung tentunya) kalo mendaki, karena kalo di jalur berlumpur tapi Kita pake sendal, siap-siap dah jadi sulit melangkah dan bahkan sendal yang dipake akan putus. Untungnya hujan turun tidak terlalu lama, Kita masih diberi kemudahan… Alhamdulillah…

Akhirnya, sekitar jam setengah 6 sore, setelah menempuh 2 setengah jam pendakian, Kita mencapai puncak… Hore! Hore! Uhui! Ternyata emang bener apa yang dibilang ama si Rafi, ngga sampe 3-4 jam apalagi 4-5 jam Kita udah sampe puncak. Cukup 2 setengah jam aja waktu pendakian dari Posko Pendakian sampai ke puncak Prau, bahkan mungkin bisa lebih cepet lagi kalo misalnya selama perjalanan ngga hujan dan ngga ngantri pas mendakinya (karena yang mendaki jumlahnya banyak, pas di anak tangga yang ada di deket puncak Kita ngantri melaluinya)… tapi ya 2 setengah jam juga cukup cepetlah…



Menikmati View

View Dieng dari Jalur Antara Pos II dan Pos III

Jalur Menanjak Menuju Pos III

Bermalam di Puncak Prau
Pas sampe di puncak Prau udah ada puluhan tenda berdiri dan Kita pikir lebih malem lagi sepertinya akan tambah penuh tenda nih di puncak, jadi langsung aja Kita cari spot terbaik (kontur tanah landai dan tidak banyak bergelombang dan ada bukit yang menutupi spot tersebut, jadi tenda Kita ngga akan diterpa angin gunung secara langsung) yang masih available untuk mendirikan tenda.  Lagi giat-giatnya Kita mendirikan tenda, eh hujan turun lagi… cepet-cepet dah Kita pake tenda yang belum berdiri sempurna buat tempat neduh, dalam hati Kita berdoa semoga hujan cepet berhenti dan ngga hujan sepanjang malam… aamiin… daaan Alhamdulillah doa Kita dikabulkan, Hujan Kali Ini (mirip judul album pertama band The Rain hihi) juga ngga turun terlalu lama.

Hujan berhenti, lanjut Kita mendirikan tenda dan kemudian memasukkan tas serta perlengkapan lain ke dalamnya. Doa Kita agar hujan tidak turun sepanjang malam juga tampaknya dikabulkan Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah… Kita bisa menikmati makan malam nasi rendang hangat (dipanasin pake kompor dan nesting yang Kita bawa) di bawah langit malam yang cerah bertabur jutaan bintang… nikmatnya oh nikmatnya… sayangnya Kita ngga bawa kamera professional, jadinya Kita ngga bisa mengabadikan langit malam itu dan nge-share-nya di sini, tapi lukisan malam itu udah tersimpan dengan baik di dalam memori otak Kita dan itu sudah cukup.

Selesai makan malam Kita langsung bobo… hoho… dan seperti biasa, gue ngga bisa tidur dengan nyenyak kalo pas ngecamp di gunung, setiap satu jam sekali pasti gue terbangun… pertama terbangun karena badan sakit tidur di atas tanah keras yang agak bergelombang, kedua terbangun karena udara yang sangat dingin dan ketiga terbangun karena suara berisik dari luar (rame banget di luar tenda Kita bray, kayaknya tampat kosong di kiri-kanan tenda Kita udah penuh tenda lain nih… besok akan gue buktikan pikir gue…). Di sebelah gue, Adi dan Rafi bisa tidur dengan nyenyaknya… pada pelor (nempel langsung molor) mereka… enak bener yak bisa begitu…


Bobo di Dalem Tenda


Perjalanan Turun dari Puncak Prau
16 Mei 2015, jam setengah 6 pagi, langit cerah, Kita keluar dari tenda dan siap menyambut Golden Sunrise di Puncak Prau, dan bener aja, pas Kita keluar, di kiri-kanan tenda Kita udah penuh ama tenda-tenda pendaki lain… weleh-weleh udah kayak perkampungan tenda nih Puncak Prau… Karena tidak ada batasan berapa pendaki yang boleh mendaki Gunung Prau dalam satu malam, jadinya kayak gini nih, buaanyak banget orang di Puncak Prau… kayak pasar man!


Ramenya Puncak Prau

Perkampungan Tenda di Puncak Prau


Dan ternyata baru keluar tenda jam setengah 6 pagi udah telat bray… semua pendaki lain udah pada keluar duluan, spot-spot terbaik untuk melihat Golden Sunrise udah pada dikaplingin duluan ama pendaki lain, jadilah Kita permisi-permisi supaya bisa jalan nyempil-nyempil diantara pendaki lain terus maju ke barisan paling depan… hehehe…

Pemandangan di Puncak Prau memang indah bray, Subhanallah, ngga ada duanya lah… ini buktinya!


Cie Cie...

Lagi Ngeliatin Apa Mas..?




Puas menikmati Golden Sunrise dan pucuk-pucuk gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet sambil fhoto-fhoto, jam setengah 7 Kita beres-beres dan mulai melipat kembali tenda yang Kita dirikan. Kita memutuskan untuk skip sarapan di Puncak Prau supaya bisa lebih cepat sampai di bawah lagi, dan setelah kurang lebih setengah jam Kita beres-beres, sekitar jam 7 pagi lebih-lebih sedikit perjalanan turun dimulai. Rafi Kita minta untuk jalan duluan, karena Kita pikir turun akan lebih mudah dan Kita bisa bawa perbekalan air mineral lebih banyak sendiri pas turun ini. Wuss… secepat kilat si Rafi sudah menghilang turun dan sepanjang perjalanan turun Kita ngga ketemu lagi ama ini anak.

Karena pagi itu sangat cerah, jadinya pemandangan Dieng sepanjang perjalanan turun bisa terlihat lebih jelas ketimbang pas perjalanan naik… dan ini menambah semangat Kita untuk fhoto-fhoto lagi hehehe…

Catatan: sinyal operator ponsel di Puncak Prau lumayan kenceng bray, gue pake simcard Telkomsel ama XL dua-duanya bisa nerima sinyal dengan baik… hehehe lu bisa posting fhoto eksyen lu di socmed langsung di Puncak Prau cuy…


View Telaga Warna

Dari Sudut Berbeda

Dari Sudut Berbeda Juga


Perjalanan turun Kita tempuh lebih cepat daripada ketika naik… hehehe ya iyalah, kalo lebih lama kebangetan bray… jam 9 lebih sedikit Kita sudah sampai di Posko Pendakian (jalur naik dan turun Kita sama bray) dan langsung membuang sampah yang Kita bawa dari puncak. O iyes, selain sampah Kita sendiri, sepanjang perjalanan Kita juga memunguti sampah-sampah (botol air mineral, tas kresek) yang ditinggali oleh pendaki lain juga bray… bukannya sombong ye, tapi Kita mau Gunung Prau tetap bersih dan terjaga kelestariannya supaya lebih banyak pendaki yang bisa menikmati keindahannya… cie-cie… ahay… Salam Lestari!

Lima menit kemudian Kita sudah sampai di masjid tempat mobil diparkir, perlengkapan yang Kita bawa langsung Kita letakkan di bagasi mobil, setelah itu Kita langsung ke warung makan sebelah masjid (tempat Kita makan dan beli nasi bungkus sebelumnya) untuk mandi air hangat dan sarapan. Yes, warung makan ini juga menyediakan kamar mandi air hangat untuk umum, tarifnya cukup 5 ribu rupiah per orang. Ada juga tempat mandi umum yang disediakan penduduk di sekitar Posko Pendakian, tapi kalo di sana antri boss, soalnya hampir semua pendaki yang baru turun dari puncak akan mandi di sana.

Selesai mandi dan sarapan, badan segar, perut kenyang, Kita kembali ke masjid dan di sana si Rafi udah nungguin Kita. Ternyata sampai di bawah si Rafi langsung pulang ke rumahnya untuk mandi dan sarapan, setelah selesai itu baru doi ke masjid untuk menyerahkan tas dan perlengkapan Kita yang doi bawa dan meminta pembayaran… pantesan aja pas Kita pertama kali sampe ke masjid setelah turun Kita ngga ngeliat tas dan perlengkapan Kita di situ dan temen-temennya Rafi juga belum ketemu doi... dasar-dasar, sering menghilang tanpa kabar nih anak… 250 ribu rupiah bayaran si Rafi sudah Kita serahkan, ngga lupa juga Kita ucapin terima kasih sama doi karena udah bantuin Kita. Akhirnya sekitar jam 10an Kita cabut dari parkiran masjid untuk bergerak pulang kembali ke Jakarta. Selamat tinggal Dieng dan Puncak Prau yang telah menghadiahi Kita dengan lukisan alam yang menakjubkan… Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar…

Berbeda sedikit dengan rute perjalanan keberangkatan Kita dari Jakarta (Pondok Cabe) ke Dieng, rute perjalanan pulang dari Dieng Kita ambil ke arah utara, yaitu melalui Batur, Kali Bening, terus ke Kajen dan Pekalongan. Dari Pekalongan terus menyusuri PANTURA melalui Pemalang, Tegal dst… Perjalanan dari Dieng ke Pekalongan Kita tempuh selama lebih kurang tiga jam, dan di sepanjang rute ini Kita akan menjumpai pemandangan yang indah karena jalannya yang menembus hutan dan mengelilingi bukit-bukit, jalan-jalan di rute ini juga banyak mulusss-nya ketimbang yang rusak… mungkin karena ngga banyak kendaraan yang lewat rute ini kali ye…

Alhamdulillah perjalanan pulang Kita lancar jaya, cuma sedikit menemui kemacetan di simpang jomin Cikampek. Jam 9 malam Kita sudah tiba di rumah gue di Pondok Cabe dengan selamat…

Selesailah perjalanan Kita mengunjungi Puncak Prau, sebuah perjalanan yang menyenangkan walau sedikit berat pas berangkatnya, tapi overall Kita puas karena berhasil memuncaki Gunung Prau dan dihadiahi langit yang cerah oleh Yang Maha Kuasa sehingga Kita bisa melihat Golden Sunrise-nya Gunung Prau…


Catatan terakhir, inget gak di awal-awal tulisan waktu gue bilang ‘…Kita pikir ini mah gampang cuy, walaupun ternyata… baca terus ya, jawaban dari ‘walaupun ternyata’-nya ada di bawah… hehehe…’ – dan ternyata emang ngga terlalu susah cuy mendaki Gunung Prau, dan ‘walaupun’nya itu ya beratnya cuma pas di perjalanan menuju ke sananya dari rumah gue… wkwkwk…kwkwkw…



Thanks for reading..

Return to Part I
Klik The Gogonsif you want to know about the novel.


Recommended Reading:
FAMILY CASH FLOW AND BUDGETING - MS EXCEL TEMPLATE

No comments:

Post a Comment