Tuesday, June 16, 2015

[CatPer] The Gogons: Trip to Gunung Prau, Dieng (2.565 mdpl) – Part 1





Mengutip Novel karya Tere Liye yang berjudul ‘The Gogons: James & the Incredible Incidents’:

Mereka awalnya berenam!
Dipertemukan tak sengaja oleh takdir huruf pertama.
Bertabiat laksana bumi dan langit.
Mereka sekarang tetap berenam!
Cowok-cowok metroseksual dengan masalah superserius!
Riang-tertawa menjalani manis persahabatan.
Yang tidak pernah mereka sadari, Persahabatan itu mulai menembus batas-batas rasionalitas.
Ketika satu per satu berguguran oleh tragedi menyakitkan yang sulit dimengerti.
Ketika persahabatan menuntut lebih dari sekadar kebersamaan.
Mereka awalnya berenam!
Entah menjadi berapalah di ujung cerita!


Pada Kenyataannya:

Mereka awalnya berenam!
Dipertemukan tak sengaja oleh takdir huruf pertama.
Bertabiat laksana bumi dan langit.
Mereka sekarang tetap berenam!
Sudah pada jadi bapak-bapak, hidup harmonis bersama keluarga masing-masing.
Riang-tertawa menjalani manis persahabatan.
Kita masih bersahabat dalam batas rasional.
Tidak berguguran lah yauw, tidak ada tragedi menyakitkan dan tidak ada yang menuntut apa-apa.
Alhamdulillah!
Mereka awalnya berenam!
Cerita mereka masih berlanjut sampai sekarang… dan ini adalah cerita tentang perjalanan mereka ke Gunung Prau, Dieng…

Hehehe maaf kalau sudah menghancurkan sebuah cerita yang bagus… udah ijin kok ama author-nya…




Setelah di Desember 2013 Kita mengunjungi Ranu Kumbolo (nanti Kita critain yah say…), terus di September 2014 kali ketiga Kita kembali fhoto-fhoto dengan latar pucuk Gunung Pangrango (ini juga mau Kita critain… boleh ya…) dan di Desember 2014 Kita melakukan Road Trip menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat, mulai dari Pantai Jayanti sampai ke Pantai Batu Karas (critain juga gak ya… critain aja deh… tapi nanti juga ya…), nah di Bulan Mei 2015, tanggal 15-16 kemarin, Kita akhirnya bisa bertamu ke puncak gunung yang sekarang lagi tenar-tenarnya, puncak gunung yang menyajikan tamunya dengan pemandangan indah pucuk-pucuk gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet dan tentunya menyajikan keindahan Golden Sunrise di pagi yang cerah…   

Sebenernya Gunung Prau bukan pilihan utama, karena sebenernya Kita udah ngebet bangget mau duduk-duduk  di pinggiran Danau Segara Anakan, tapi kalau mau ke sana itu Kita butuh banyak kelebihan, kelebihan uang yang banyak, kelebihan waktu yang banyak dan kelebihan tenaga yang banyak, jadinya untuk perjalanan ke sana masih Kita tunda, mudah-mudahan akhir 2015 ini Kita bisa ke sana… Aamiin… tapi kalo ngga bisa, ya nanti tahun 2016, dan kalo ngga bisa juga ya tahun 2017 aja, dst… silakan terusin sendiri…

Karena perjalanan ke Danau Segara Anakan masih belum bisa dilaksanakan, jadinya Kita perlu alternatif gunung lain yang bisa didaki, dengan diantara pilihan alternatifnya adalah Gunung Cikuray, Gunung Papandayan dan Gunung Prau, yang gampang-gampang aja bray. Setelah melakukan riset, maka akhirnya dengan keputusan bulat dari juri dan hasil voting sms, Kita memilih Gunung Prau untuk didaki... Hore… Hore…

Berdasarkan informasi dari situs info pendaki (http://infopendaki.com/gunung-prau/), Pendakian Gunung Prau rata-rata hanya membutuhkan waktu 3-4 jam saja, nah ini dia!, eh, nah inilah yang mendasari keputusan mengapa Kita memilih Gunung Prau untuk didaki (wong Kita daki Gunung Gede aja udah jalan 5 jam baru sampe Kandang Badak!), Kita pikir ini mah gampang cuy, walaupun ternyata… baca terus ya, jawaban dari ‘walaupun ternyata’-nya ada di bawah… hehehe…



Mereka awalnya berenam!
Tapi yang akhirnya ikut mendaki cuma dua orang… hiks, sedihnya…



Begini ini sedihnya, awalnya ada 5 orang yang menyatakan bisa ikut pendakian Gunung Prau ini, Adi, Dito, Darwis, Andri (ini tokoh yang harusnya muncul di novel The Gogons Jilid II yang sayangnya ngga terbit… hehehe, spoiler…) dan gue sendiri, tapi 3 hari sebelum hari-H keberangkatan, Andri mundur karena tanggal 18 Mei dia harus ke Aceh. Dito mulai berubah, dia ngga seperti yang dulu lagi… eh ngga deng, Dito mulai berubah dari yang konfirm ikut jadi tentative, anaknya sakit… Darwis, dia terlalu sibuk, tanggal 14 Mei dia ada acara di Jogja, jadi kalo pun dia ikut, dia akan menyusul langsung dari Jogja, asal… dia ngga kecapek-an setelah acara, yah sudahlah…

Hari-H tiba, 14 Mei 2015, Adi dan gue memulai perjalanan, ya Dito akhirnya mundur juga karena badan anaknya masih panas, dia ngga tega ninggalin anaknya yang sakit, dan itu tindakan yang sangat amat benar karena Family Comes First! Always Remember That. Dengan mobil gue, Kita mulai perjalanan dari rumah di daerah Pondok Cabe jam setengah 4 pagi, dengan harapan sore harinya Kita sudah tiba di Dieng atau paling ngga tiba di Wonosobo. O iyes, berikut ini itinerary awal perjalanan Kita ke Gunung Prau:


14 Mei 2015, 03.00 Pagi Waktu Pondok Cabe: berangkat dari rumah – yang ini udah sedikit terlanggar…

14 Mei 2015, 15.00 – 17.00 Sore Waktu JATENG: sampai di Dieng, cari Guest House dekat Posko Pendakian buat nginep (alternatif: kalo jalan macet dan kemungkinan akan kemaleman sampai Dieng, maka Kita akan nginep di Wonosobo dan baru ke Dieng pagi hari tanggal 15 Mei)

15 Mei 2015, Pagi Waktu JATENG:
*Kalo malam sebelumnya Kita nginep di Dieng: jalan-jalan di area Dieng dan mencari porter sebelum Sholat Jum’at
*Kalo malam sebelumnya Kita nginep di Wonosobo: cari kuliner khas Wonosobo, berangkat ke Dieng jam 9 pagi, sampai di area Diang Kita mencari porter sebelum Sholat Jum’at

15 Mei 2015, 14.00 – 15.00 Siang Waktu Dieng: setelah Sholat Jum’at Kita menuju Posko Pendakian untuk mendaftar mendaki Gunung Prau, mulai mendaki, dan menginap semalam di Puncak Gunung Prau

16 Mei 2015, 07.00 Pagi Waktu Dieng: setelah puas mengagumi keindahan alam ciptaan ALLAH SWT (mudah-mudahan cerah dan ngga berkabut), Kita turun dari puncak Prau ke Dieng

16 Mei 2015, 10.00 – 11.00 Pagi Waktu Dieng: sampai di bawah lagi (area Dieng), istirahat (mandi, makan), Kita langsung kembali ke Jakarta

16 Mei 2015, 22.00 – 24.00 Malam Waktu Pondok Cabe: sudah sampai rumah lagi

Itinerary perjalanan yang singkat dan padat, iya kan, iya kan… iya-in aja deh…


Kembali ke perjalanan gue dan Adi, what we didn’t expect is that, Kita kena macet mulai dari 3 KM sebelum pintu keluar Tol Cikampek sampai sebelum masuk Tol Palikanci… wow, kayak mudik lebaran aje, but we should have expected this, dan walaupun sebenernya Kita sudah duga juga sih karena Kita pergi pas long weekend (ada Jum’at kejepit soalnya), tapi karena udah niat ya macet-macet dibikin saik aje boss…



Lagi macet-macet di Subang, eh di seberang jalan ada Bis AKAP ngelawan arus...

Setelah hampir sepuluh jam Kita menyusuri jalur pantura Jawa Barat, sekitar jam 1 siang Kita baru sampai Tol Palikanci. Kita memutuskan untuk makan siang dulu di daerah Cirebon, dan setelah menanyakan ke beberapa orang teman tentang tempat makan yang enak di daerah Cirebon, akhirnya Kita memilih untuk makan di restoran SALT. Restoran ini menyajikan masakan sunda dan sea food, dan juga menjual view lembah di area Ciperna, Cirebon.



View dari Restoran SALT


Saking lapernya, karena Kita belom makan/sarapan dari sejak berangkat dan cuma ngemilin snack michin aja sepanjang perjalanan dari Pondok Cabe ke Cirebon, alhasil Kita makan dengan kalapnya di restoran SALT. Bebek penyet, kerapu bakar kecap, tempe goreng tepung, tumis kangkung terasi dan sebakul kecil nasi putih ditambah 2 es campur ludes Kita embat. Total hampir 225 ribu Kita keluarin dari kocek buat bayar semua makanan, dan untungnya Kita bawa uang cash, karena si pihak restoran ngga bisa menerima pembayaran pake kartu debit/kredit… apalagi pake kartu tanda penduduk cuy…

Sekitar jam setengah 3 sore Kita melanjutkan perjalanan dan rute perjalanan Kita selanjutnya adalah Tol Kanci-Pejagan, Brebes, Tegal, lalu bergerak ke selatan ke arah Purwokerto melalui Slawi dan Bumiayu. Sekitar jam setengah 7 malam Kita tiba di Bumiayu, daaaaan… kena macet lagi euy… Nah, di sini diputuskanlah kalau Kita akan stay menginap di salah satu hotel di Purwokerto, karena sudah bisa diperkirakan kalau Kita mau terusin perjalanan malam itu ke Wonosobo/Dieng, maka Kita baru akan sampai sekitar jam 10 atau 11 malam… kemaleman bray, dan Kita juga udah capek nyetir.

Di mobil, Adi langsung buka situs-situs booking hotel dari smartphone-nya, nyari decent hotel with reasonable price, dan dari beberapa hotel yang available dengan kriteria tersebut akhirnya Kita memilih untuk menginap di Hotel Horison Purwokerto, Adi langsung nge-book hotel tersebut. Sekitar jam 8 malam Kita sampai di hotel dan langsung bobo… hehehe… Bisa dibilang, dengan nginep di Purwokerto ini berarti Kita udah melenceng dari itinerary awal, tapi schedule lain masih bisa dikejar dong…


Invoice Hotel Horison Purwokerto


15 Mei 2015, Jam 8 pagi lebih-lebih sedikit Kita check out dari hotel dan melanjutkan perjalanan, rute selanjutnya dari Purwokerto yang Kita pilih adalah melalui Purbalingga, kemudian ke Banjarnegara dan Wonosobo, selanjutnya bergerak ke utara menuju Dieng. Rute tersebut Kita pilih atas dasar hasil diskusi (tanya-tanya) dengan salah satu staf restoran hotel, staf tersebut menyarankan agar Kita tidak melewati daerah Karangkobar karena ada banyak jalan rusak akibat musibah tanah longsor beberapa waktu yang lalu, jadi menurut dia dari Purbalingga Kita sebaiknya ke selatan arah Banjarnegara. Ya Kita sih nurut aja, staf hotel itu kan orang sekitar situ, tentunya dia lebih tau dari Kita… lagian Kita ngga mau ambil resiko kelamaan di jalan lagi, karena Kita harus sampai di Dieng sebelum Sholat Jum’at supaya Kita ngga ketinggalan Sholat Jum’at di Dieng (menyesuaikan dengan itinerary).

Alhamdulillah perjalanan menuju Dieng lancar dan Kita sampai di pintu masuk kawasan wisata Dieng sekitar jam setengah 11 siang. Dari sini Kita langsung tancap gas untuk mencari letak Posko Pendakian Gunung Prau Desa Patak Banteng (‘Posko Pendakian’) dan mencari masjid yang dekat dengan Posko Pendakian. Ngga perlu susah-susah nyari-nya, karena jalan utama kawasan wisata Dieng cuma ada satu dan plang Posko Pendakian ada di pinggir jalan tersebut (Kalo dari arah Wonosobo letak Posko Pendakian ada di sebelah kanan jalan). Sekitar jam 11 kurang Kita sudah menemukan letak Posko Pendakian Desa Patak Banteng, dan selanjutnya Kita mencari masjid.




Tiket Masuk Kawasan Dieng


Peta Kawasan Dieng

Kurang lebih 200-300 meter dari  Posko Pendakian, juga dipinggir jalan utama kawasan wisata Dieng, Kita melihat masjid besar dengan halaman yang cukup luas (lupa nama masjidnya, letak masjid juga di sebelah kanan jalan dari arah Wonosobo), dimana di atas pagar masjid tersebut tertulis ‘Tempat Parkir Kendaraan Pendaki Gunung Prau’, wah Alhamdulillah, dapet dua-duanya nih, tempat parkir dan masjid buat sholat Jum’at. Tanpa pikir panjang kali lebar kali tinggi, Kita langsung memarkirkan mobil di dalam halaman masjid tersebut dan menunaikan ibadah Sholat Jum’at. Uhui.



Halaman Masjid Tempat Parkir Kendaraan Pendaki Prau

O iyes pas masuk parkir Kita langsung bilang kalau Kita akan parkir untuk ditinggal mendaki Gunung Prau semalam, jadi Kita langsung diberikan tiket penitipan kendaraan yang berlaku untuk satu malam, dan tarifnya Rp. 15.000,- per malam, aman…



Tiket Parkir


Selesai sholat Jum’at Kita cari makan siang, ngga perlu jauh-jauh nyari karena di sebelah masjid ada warung makan dan oleh-oleh yang masakannya enak, ladziidz… di warung ini juga Kita membeli perbekalan untuk makan malam, yaitu nasi bungkus tanpa lauk, ya benar tanpa lauk karena Kita sudah mempersiapkan lauknya, rendang daging sapi matang dalam kemasan (yang biasa Kita beli merk-nya: Uda Gembul, promosi nih… ayo produsen Uda Gembul monggo kasih Kita bayaran hehehe…). Nasi bungkus tanpa lauk Kita beli hanya untuk makan malam saja, karena kalau untuk sarapan pagi keesokan harinya takutnya bakalan basi, kan Kita ngga bawa pemanas nasi. Nah, untuk sarapan pagi keesokan harinya Kita siapkan mie instan seleeerakuuu…

Perut udah kenyang, saatnya bersiap-siap untuk memuncaki Gunung Prau. Kita kembali ke masjid dan membuka bagasi mobil untuk repacking perlengkapan yang akan dibawa naik, eitsss ada yang kelupaan nih, Kita belum dapet porter cuy… Kita kan mau bawa badan doang pas naik nanti, atau paling ngga mengurangi beban bawaan karena perlengkapan yang berat-berat Kita transfer ke porter untuk dibawa doi. Ngga perlu jauh-jauh juga buat nyari porter, cukup tanya petugas parkir di masjid dan dia langsung mengkonfirmasi kalau dia adalah porter dan menyatakan kalau dia available untuk pendakian hari itu. Nama porternya adalah Rafi (tanpa Ahmad), masih tergolong ABG (ya paling masih SMP/SMA – yang ini ngga Kita konfirmasi) dan tarifnya 250 ribu rupiah untuk semalam (ngga perlu sampe ngeluarin dana 200juta, si Rafi siap melayani Kita bray… hehehe jangan ngeres lu cuy… dan tarif 250ribu ini sepertinya tarif resmi porter untuk mendaki Gunung Prau satu malam).

Perut udah kenyang, porter udah dapet, kembali Kita repacking perlengkapan. Sepakat dengan porter untuk mulai pendakian jam 2 siang supaya paling ngga jam 6 atau 7 malam sudah sampai puncak Gunung Prau, karena kalau menurut situs info pendaki perlu 3-4 jam untuk mencapai puncak Prau, nah kalau Kita memperkirakannya Kita perlu waktu 4-5 jam untuk mencapainya. Beda dari apa yang ditulis oleh situs info pendaki, porter Kita, Rafi (tanpa Ahmad), bilang kalau untuk mencapai puncak Prau hanya perlu 2-2,5 jam saja… Hah…? Apa…? Kaga salah lu bray… Kita bilang ke dia mungkin waktu 2-2,5 jam itu buat pendaki-pendaki professional/terlatih kali ya atau buat orang-orang sekitar situ yang udah sering naik-turun Gunung Prau (kayak si Rafi (tanpa Ahmad) ini…), kalo Kita mah udah tua, udah bapak-bapak, perut udah buncit, paling tiap 10 menit nanjak Kita bakalan istirahat buat ngatur nafas… hehehe… Kaga percayalah Kita kalo Cuma 2-2,5 jam udah sampe…

Jam 2 siang lebih-lebih sedikit Kita take-off dari parkiran masjid menuju Posko Pendakian untuk mendaftar mendaki. Rafi, yang awalnya take-off bareng-bareng dari masjid, ditengah jalan menuju Posko Pendakian mampir dulu ke salah satu warung untuk beli rokok dan doi nyuruh Kita untuk jalan duluan ke Posko. Karena Kita mau naik bareng-bareng ama si Rafi, jadi Kita ngga langsung ke Posko Pendakian, Kita nungguin Rafi dulu di pinggir jalan utama Dieng tepat di depan jalan masuk menuju Posko Pendakian. 10 menit nungguin kok ini anak kaga nongol-nongol, Kita lihat ke Posko orangnya ngga ada, balik lagi ke warung tempat dia beli rokok juga ngga ada, akhirnya Kita balik ke masjid dan nanyain temen-temennya, dan mereka bilang juga si Rafi kaga balik lagi ke masjid… nah lo… ke mana doi nih… balik ke rumahnya lagi? Tidur? Wadaw kaga jelas nih.

Karena temen-temennya nelponin Rafi ke HP-nya juga ngga diangkat, akhirnya sekitar jam setengah 3 mereka bilang supaya Kita duluan aja mendaftar ke Posko dan mulai naik, mereka akan terus berusaha mengkontek Rafi ke HP-nya dan meyakinkan Kita kalau Rafi pasti akan nyusul. Ya Kita kan was-was juga dong, kalo sampe nanti Kita naik ke puncak Prau si Rafi kaga ada, bakal beku kedinginan Kita cuy, kan semua perlengkapan ada sama doi. Dengan perasaan was-was dan sedikit kesal Kita bergerak ke Posko Pendakian, nah untungnya pas Kita lagi daftar, salah satu temennya Rafi nyamperin terus bilang kalo Rafi berhasil dikontak dan saat dikontak Rafi udah ada di Pos pertama jalur pendakian Gunung Prau… lah cepet amat yak… ya udah deh aman kalo gitu, Kita langsung daftar dan mulai pendakian, dan waktu itu berarti Kita mulai pendakian jam 3 sore.


Tiket Pendakian Gunung Prau


Peta Pendakian Gunung Prau dan Ketentuan Pendakian
Bersambung...


Continue reading Part II 


Klik tulisan 'Part II' di atas untuk melanjutkan membaca bagian ke-2


Klik The Gogons, if you want to know about the novel.


Recommended Reading:
FAMILY CASH FLOW AND BUDGETING - MS EXCEL TEMPLATE

2 comments:

  1. Saya selalu bertanya2, kenapa novel tere liye kelanjutan the gogons tidak pernah muncul? Dan yg lebih mengherankan lagi.. kenapa novel ini yg tdk pernah dipublikasikan.. Ternyata.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih udah kasih comment. Iya novel kelanjutan The Gogons ngga pernah muncul lagi, soalnya The Gogons-nya sibuk naik gunung... Hehehe...

      Delete