Sunday, May 10, 2015

Kepada Yang Tercinta (untuk istriku, Citra Tri Wulandari)



Sabtu, 19 November 2005, udah dari jam 08.00 pagi gue mencoba untuk menyusun sebuah puisi yang bakal dimasukin ke dalem surat undangan pernikahan gue. Gue memang berencana untuk mendesain sendiri surat undangan pernikahan gue, dan juga ingin 'nyantolin' sebuah puisi hasil karya sendiri ke dalamnya. Supaya hasil desain lebih baik dan puisi yang bakal di 'cantolin' bagus, maka gue udah mencoba untuk mempersiapkannya 6 bulan sebelum D-Day hari pernikahan.

Sekarang jam 11.00 siang, masih aja belum ketemu kata-kata yang tepat untuk puisinya, yang ada di kepala baru judulnya, 'Bidadariku', tapi isi puisinya masih kosong… hiks…. Sudah jadi kebiasaan gue dalam menulis puisi, yang gue duluin pasti judulnya baru setelah itu cari kata-kata yang tepat untuk mendukung judul tersebut. Mungkin cara tersebut salah, mungkin benar, tapi memang begitulah cara gue mendapatkan inspirasi (maklum dari dulu ngga pernah belajar Sastra secara formal di bangku pendidikan).
Akhirnya gue nyalain musik di komputer, mp3 'Dewa 19' album 'Terbaik-Terbaik' yang gue pasang. Sengaja gue pasang lagu mereka untuk mendukung atmosfir di dalam kamar kost supaya inspirasi bisa cepet datang. Semua orang pasti setuju kalau syair dari lagu-lagu mereka sangat bagus dan inspiratif…
Berulang-ulang gue putar lagu 'Cintakan Membawamu Kembali', hingga akhirnya mengalirlah kata-kata untuk puisi berjudul 'Bidadariku' dari otak ke ujung jari di atas keyboard komputer.


Bidadariku
Memandang langit biru dari sudut matamu
Melukis awan putih di atas wajahmu
Merangkai bintang jatuh jadikan mahkotamu
Hadirkan rembulan cahayanya rona pipimu

Kekasih, aku adalah pemimpi
Gambaran indahnya mimpiku tergores pada paras bidadari
Kurengkuh anggunnya kubawa berlari
Sejauh langkah kaki hingga terjaga di pagi hari

Kekasih, engkau hadir membawa rindu
Mengisi hari-hariku dengan mimpi bidadari itu

Kekasih, engkaulah langit biru – engkaulah awan putih
Menghiasi pandangan mata, menyejukkan di dalam hati

Kekasih, engkaulah bintang jatuh – engkaulah rembulan
Berkerlip mencoret pekat, penuh kasih menemani malam

Kekasih, aku tak ingin lagi bermimpi
Sejuta malam mata ini ingin tetap terjaga
Memandang bidadari yang terlelap di sisi
Melihatnya tersenyum, melayang menggapai mimpi di ujung sana
        - Balikpapan, 19 November 2005

Setelah dibaca 100 kali, gue pikir kayaknya puisi 'Bidadariku' kurang pas buat dimasukin ke dalam surat undangan, ngga nyambung sama tema pernikahan.... Hehehe… mungkin puisi 'Bidadariku' ini tercipta karena saat itu gue kangen BGT sama calon istri yang udah gue tinggal selama 7 bulan lebih di Jakarta karena harus kerja di Balikpapan (ngga 7 bulan full sih, minus dua hari lah, soalnya gue sempet balik ke Jakarta setelah 3 bulan di Balikpapan pas dapet tiket pesawat murah).
Setelah 5 jam melototin komputer, gue nyerah, inspirasi ngga dateng lagi…
Mata udah pedes… akhirnya gue putusin untuk istirahat dulu, jalan ke pantai yang kebetulan ada di seberang jalan dari gang tempat kost (nogkrong di bawah pohon kelapa sambil makan siang, kali aja inspirasi bisa ngalir).
Jam 3 sore, pulang ke kost dari pantai tanpa menghasilkan inspirasi apapun… nasib… nasib…
Mandi, trus nonton TV bareng-bareng anak kost, sambil otak terus muter-muter nyari inspirasi, susah dapet kalo sambil nonton TV, plus suasana rame, plus sambil ngobrol ngalor-ngidul…. Kosong lagi dah hasilnya…
Jam 10 malem, tiduran di kamar sambil dengerin mp3, lagi-lagi lagu-lagu Dewa 19, tapi kali ini dari album 'Bintang Lima'. Kali ini lagu 'Risalah Hati' nyangkut di otak gue, membuat gue lancar nulis puisi 'Saat Rasa itu Hadir'…
Nah, puisi ini keluar begitu aja dari otak gue dan emang ngga pas buat dimasukin ke dalem surat undangan pernikahan cuy… hehehe…

Saat Rasa itu Hadir
Ingin kuberikan sebentuk cinta dan separuh jiwaku
Hanya untukmu
Sepenuh hati aku memujamu dan ingin memilikimu
Hanya untukku

Seperti biasa aku hanya bisa memandang
Dari kejauhan dengan hati yang membatu karang
Bunga ditangan sudah mulai layu
Tapi langkah kaki terhenti tak berani untuk maju

Saat rasa itu hadir, aku tak bisa lurus berpikir
Jantung berdetak semakin keras, seperti hujan jatuh menderas
Seluruh tubuh gemetar, seakan-akan bumi ikut bergetar
Apakah kubuang saja perasaanku padamu, karena semua hanya membuatku pilu

Sekali lagi aku memaku
Aku tak ingin rindu ini menjadi salju
Tapi semua telah membuatku ragu
Dirimu hanya akan meludahi mukaku
Menggoreskan luka dalam kalbu

Saat rasa itu hadir, aku hanya ingin semua berakhir
Rindu, cinta dan asa kuingin semuanya tak pernah terlahir
        - Balikpapan, 19 November 2005

Puisi 'Saat Rasa itu Hadir' ini menggambarkan perasaan gue ke calon istri sebelom kita jadian pas kuliah dulu, cuma bedanya, kalo di dalem puisi ini tokohnya ngga berani ngungkapin perasaannya dan merasa rendah diri di hadapan si cewek, sementara gue berhasil merebut hati si cewek dan sekarang si cewek udah jadi calon istri gue hingga akhirnya Kita tinggal menghitung bulan ke tanggal pengikatan tali pernikahan... cie cie…
Tambah malem, mata udah braaattt… tidur dulu aaahhh… lanjut besok cing…
Minggu, 20 November 2005, kesiangan euy, udah jam 09.00 nih, pasti anak-anak kost ngga ngebangunin gue dan mereka udah pada lari pagi ninggalin gue… Tanpa mandi dulu, gue langsung keluar kost-an buat nyari sarapan, udah tinggal sisa-sisa, tapi untung masih ada nasinya…
Balik ke Kost gue langsung menuju ruangan TV, mau nonton Dorameon ah di TV... eeeh, ternyata anak-anak kost yang lain lagi pada di depan TV dengan muka kusut, baru bangun tidur semua ternyata… hahaha… dasar…dasar… pemalasss semua…
Pas nonton TV itulah dari rumah sebelah kedengeran lagu 'Tak Akan Ada Cinta Yang Lain', lagi-lagi lagunya Dewa 19, tapi versi yang dinyanyiin sama Titi DJ brow… Sekonyong-konyong datenglah inspirasi dikepala… wusssssssss, ngibrit gue ke kamar, nyalain komputer, dan jari-jemari ini langsung tak-tik-tuk di atas keyboard... dan sejurus kemudian lahirlah puisi yang akhirnya cucok buat dimasukin ke dalam surat undangan pernikahan gue… Uhuyyy….

Kepada Yang Tercinta
Setetes embun di ujung daun, enggan mengalir
Berharap datang angin membantunya bergulir
Di bawah, rerumputan menanti dalam dahaga
Berharap datang angin memberi asa dan cinta

Lukisan pagi begitu indah, mentari bersinar ramah
Wajahnya bersemu merah, binar matanya cerah
Tersenyum malu-malu, dia mendekatiku
Kugenggam jemari itu, dengarlah bisikku

Saat ini telahku nanti, satunya dua hati
Dalam ikatan suci, ALLAH yang menjadi saksi

Kekasih aku telah memilihmu
Untuk kucinta dan selalu kurindu
Kekasih separuh hati ini milikmu
Sepanjang waktu, simpanlah selalu
Kekasih berjalanlah disisiku
Bersama dalam bahagia, sedih dan pilu

Kekasih selamanya akan kujaga
Cinta kita, hingga nyawa tinggalkan raga
        - Balikpapan, 20 November 2005

Semua Puisi di atas adalah hasil karya dari Ari Nur Rahman
Bersambung…



Recommended Reading:

FAMILY CASH FLOW AND BUDGETING - MS EXCEL TEMPLATE

2 comments: